Kerja Keras Adalah Energi Kita

Kerja Keras Adalah Energi Kita : Visi Pertamina Menjadi World Class Oil Company


Kerja Keras Adalah Energi Kita
"Kerja Keras Adalah Energi Kita" merupakan bagian dari kampanye Pertamina untuk memperkenalkan slogan baru mereka. Slogan tersebut sekaligus menunjukkan wajah baru dari Pertamina yang sedang berbenah diri. Di tengah sorotan publik dan pemerintah terhadap kinerja Pertamina saat ini, berbagai upaya harus dilakukan. Terlebih lagi tantangan kedepan bagi Pertamina bukan lagi sekedar wacana namun sudah mulai menjadi nyata. Visi kedepan untuk menjadi salah satu world class oil company menjadi sebuah tantangan dan jawaban terhadap keraguan publik dan pemerintah. Mungkin terlalu berlebihan visi tersebut, namun dengan semangat "Kerja Keras Adalah Energi Kita" seperti yang dikampanyekan saat ini, sepertinya untuk mewujudkan visi tersebut bukanlah hal yang mustahil.

Indonesia adalah salah satu negara yang dikenal sangat kaya akan sumber daya alamnya termasuk Minyak bumi dan Gas. Pertamina sebagai satu-satunya perusahaan negara yang mengelola minyak adalah kebanggaan seluruh bangsa Indonesia. Harus diakui bahwa saat ini Pertamina masih belum bisa berbicara banyak di kancah international. Pertamina seringkali dibandingkan dengan Petronas Malaysia yang notabene dahulu sekitar tahun 1970-an pernah berguru dengan Pertamina. Namun yang terjadi kini, Petronas melaju pesat menjelma menjadi sebuah perusahaan minyak dunia yang disegani. Petronas memiliki aset jauh diatas Pertamina yang hanya Rp 140 triliun. Bahkan, Singapore Petroleum Corporation(SPC) yang negerinya hanya satu pulau kecil yang tidak punya sumur minyak, sudah mengalahkan Pertamina.[1]




Pertamina Blog Contest



"Kerja Keras Adalah Energi Kita" merupakan moment untuk kembali bangkit dan mempercepat proses transformasi di Pertamina. Dan ketika mendengar Visi kedepan Pertamina untuk menjadi salah satu perusahaan minyak kelas dunia, terbayang sebuah kebanggaan sekaligus beratnya Kerja Keras dari Pertamina untuk mencapai visi tersebut. Untuk mencapai visi tersebut bukanlah hal yang mudah sekaligus juga bukan hal yang tidak mungkin diwujudkan. Sebuah tantangan yang mensyaratkan semangat "Kerja Keras Adalah Energi Kita" yang berkesinambungan untuk mewujudkannya.

Tantangan ke depan bagi Pertamina sangatlah besar. Selain mewujudkan visi menjadi perusahaan migas kelas dunia,Pertamina juga mengemban fungsi sosialnya kepada rakyat Indonesia yaitu menjamin pasokan energi dan mendistribusikannya ke seluruh daerah di tanah air dengan lancar dan aman dan tepat waktu. Dan mengingat peran strategis yang dimilikinya, Pertamina seharusnya juga bisa menjadi motor penggerak bagi perekonomian Indonesia. Memang bukan bukan hal yang mudah untuk men-sinergi-kan berbagai peran Pertamina tersebut diatas untuk berjalan selaras secara bersamaan namun dengan semangat "Kerja Keras Adalah Energi Kita",niscaya Pertamina bisa menjalankan fungsinya tersebut.

Semangat Kerja Keras Adalah Energi Kita dalam menentukan arah transformasi


Perbaikan manajerial juga menjadi hal yang mendesak untuk segera dilakukan oleh Pertamina adalah melalui penerapan Good Corporate Governance (GCG). Prinsip-Prinsip GCG seperti Akuntabilitas (accountability), Pertanggungan-jawab (responsibility), Keterbukaan (transparancy), Kewajaran (fairness), dan Kemandirian (independency) harus menjadi culture atau budaya kerja sehari-hari di lingkup manajemen Pertamina baik di level atas hingga merata di level bawah.

Investasi secara kontinyu, baik investasi dalam pengembangan SDM maupun Investasi dalam Pengembangan Tehnologi Terbaru (cutting edge technologies) dalam dunia perminyakan juga menjadi syarat mutlak bagi Pertamina untuk bisa mewujudkan visi world class oil company tersebut. Dengan pengalaman Joint Operation yang bertahun-tahun, sudah saatnya Pertamina mengubah platform kerjasamanya menjadi sebuah kerjasama strategic (Strategic Alliance) yang memungkinkan adanya transfer tehnologi dari Partner yang ada kepada Pertamina sehingga Pertamina akan mampu bersaing di kemudian hari dengan Partner-partnernya yang notabene kebanyakan adalah world class oil company.

Pemetaan dan perhatian terhadap aset strategis yang dimiliki Pertamina harus segera dilakukan. Salah satu contohnya adalah Blok Natuna D-Alpha yang memiliki cadangan pasti gas sebanyak 46 triliun kaki kubik dengan kandungan karbondioksida sebanyak 70 persen dimana Blok D-Alpha merupakan salah satu aset strategis sebagai cadangan gas terbesar di dunia saat ini dengan total potensi gas mencapai 222 triliun kaki kubik (tcf). Proyek ini bisa menjadi sebuah tantangan bagi Pertamina untuk mengembangkan diri. Meskipun Pertamina belum memiliki tehnologi dalam mengatasi kendala tingginya kandungan karbondioksida, namun melalui strategic partnertship, Pertamina bisa mendapatkan transfer tehnologi terhadap permaslahan tersebut sekaligus bisa menjadi sebuah milestone project untuk membawa Pertamina mewujudkan visinya menjadi World class oil company.

"Kerja Keras Adalah Energi Kita" juga merefleksikan kesadaran Pertamina terhadap masalah Pemanasan Global dan semakin menipisnya cadangan minyak di tanah air harus menjadi perhatian tersendiri bagi Pertamina. Kesadaran bahwa suatu saat cadangan minyak akan habis harus mampu mendorong Pertamina untuk lebih inovatif,kreatif,dan adaptif. Inovasi dalam pencarian sumber energi terbarukan seperti bio diesel sangat diperlukan untuk tetap bisa bertahan di masa yang akan datang. Sudah seharusnya Pertamina melakukan riset pengembangan akan potensi bio solar mengingat negara kita sangat kaya akan sumber nabati yang bisa dijadikan bahan baku bio energi seperti biji Jarak, jagung, kopra, kelapa sawit,dan lain-lainnya.

Sejalan dengan perannya sebagai penggerak ekonomi bangsa, Pertamina juga harus merangkul partner-partner lokal baik akademisi maupun perusahaan dan mendorong mereka dalam pengembangan energi alternatif yang ada. Saat ini berbagai riset pengembangan berbagai sumber energi nabati juga dilakukan oleh akademisi dan perusahaan swasta lokal meskipun hasilnya belum optimal. Pertamina bisa menjadi jembatan untuk mengoptimalkan hasil riset mereka baik dari sisi kualitas maupun sisi ekonomis.

Kerja Keras Adalah Energi Kita adalah harapan seluruh rakyat Indonesia


Harus diakui bahwa tantangan Pertamina untuk menjadi World Class Oil company sangatlah berat. Motto "Kerja Keras Adalah Energi Kita" sangatlah selaras dengan kesadaran akan terbatasnya cadangan minyak yang ada di Indonesia dan dunia. Dan harus kita akui bahwa Kerja Keras adalah sebuah Sumber Energi yang tidak akan habis dan yang akan mampu membuat Pertamina mentransformasikan dirinya lebih cepat lagi untuk mewujudkan visi sebagai world class oil company. "Kerja Keras Adalah Energi Kita" mengisyaratkan keseriusan Pertamina untuk mewujudkan visi tersebut.

Terlepas dari berbagai kekurangan yang dimiliki oleh Pertamina, besar harapan rakyat Indonesia terhadap Pertamina untuk mewujudkan visinya menjelma menjadi sebuah perusahaan minyak kelas dunia yang mampu berbicara banyak di kancah international.Besar harapan rakyat Indonesia bahwa "Kerja Keras Adalah Energi Kita" bukan hanya sekedar jargon belaka. Dan pastinya "Kerja Keras Adalah Energi Kita" harus menjadi sebuah culture atau budaya kerja setiap hari, yang meresap ke dalam diri semua karyawan di Pertamina baik di level atas maupun di level bawah.
READ MORE - Kerja Keras Adalah Energi Kita

Miyabi Datang Semua Tegang

Siapa yang tidak kenal Miyabi atau Maria Ozawa. Kebanyakan kaum adam, apalagi yang sering bergaul dengan dunia netter dan para penggemar film porno pasti tahu Miyabi, the new rise of porn star setelah Asia Carrera. Akhir-akhir ini publik di tanah air diramaikan oleh seputar berita kedatangan Miyabi yang rencananya akan bermain film di Indonesia.

Kontroversipun bergulir bagai sebuah coin yang memiliki dua sisi. Ada yang mengijinkan dan banyak juga yang menolak.Harus diakui kejelian bisnis sang produser film tersebut dalam melihat pangsa pasar. Ingat bahwa dari riset mbah google,pengguna internet di Indonesia adalah salah satu yang terbesar dalam pencarian film porno! Anda tidak Percaya, coba gunakan Google Trends untuk melihat beberapa kata kunci yang berhubungan dengan pornografi seperti porn,sex,penis,vagina, maka anda akan melihat bahwa Indonesia akan masuk sepuluh besar. Bahkan untuk pencarian dengan kata "miyabi","maria ozawa", "japan porn", "asian porn" indonesia menduduki peringkat no 1!

Artinya bahwa penggemar film biru di Indonesia termasuk paling besar di dunia! dan kebetulan Miyabi adalah seorang rising porn star. Coba saja ketikkan kata "Miyabi" di google, anda akan melihat ada 3.170.000 situs yang terkait dengan Miyabi. Coba lagi dengan kata "Maria Ozawa",maka anda akan melihat ada sekitar 4.030.000 situs yang terkait dengan Miyabi atau Maria Ozawa. Hal tersebut menunjukkan betapa sangat populernya seorang Miyabi. Ketenaran Miyabi di Internet tersebut bahkan mengalahkan ketenaran presiden Susilo Bambang Yudhoyono di internet yang indeks pencariannya hanya sekitar 2.630.000!

Persoalan sebenarnya adalah masalah IMAGE seorang Miyabi. Sebagai seorang super pornstar,pastinya image dia kebanyakan negatif. Dari sisi yang lain,katakanlah bisnis, kedatangannya akan berguna bagi dunia perfilm-an Indonesia. Apalagi dari sisi produser film "Menculik Miyabi" itu sendiri, sudah dipastikan keuntungan depan mata. Coba bayangkan saja, kontroversi ini sendiri menjadi sebuah promosi gratis bagi film itu sendiri.

Miyabi belum datang saja, masyarakat sudah gempar, apalagi kalo film-nya sudah jadi. Belum datang saja, permintaaan VCD porno Miyabi meningkat tajam.. lihat di sini dan di sini Pasti rasa penasaran publik akan tersalurkan di bioskop-bioskop terdekat. Bahkan tidak menutup kemungkinan Film "Menculik Miyabi" akan meledak tidak hanya di Indonesia tapi juga di mancanegara (siapa tau bisa menyamai box office Hollywood)mengingat fans Miyabi di dunia sangatlah besar. Sekaligus menjadi promosi gratis bagi Indonesia di dunia internasional

Kembali ke masalah Image, pertanyaan besarnya adalah apakah masyarakat kita sudah siap melihat sisi positif dari kedatangan Miyabi.Dari sisi praktis mungkin sah-sah saja kedatangan Miyabi selama tidak melakukan pornografi di Indonesia, namun dari sisi etika mungkin masih kurang bisa dibenarkan kedatangan Miyabi mengingat dampaknya bisa sangat besar bagi masyarakat luas.

Namun bagaimanapun hebohnya masalah ini, mari kita lihat saja akhir dari drama kontroversi ini. Kalaupun memang film "Menculik Miyabi" tersebut jadi diproduksi, pemerintah seharusnya harus sangat tegas membatasi penontonnya agar jangan sampai ditonton oleh anak-anak di bawah umur. Dan pastinya kita kembalikan kepada diri kita sendiri tentang bagaimana menyikap masalah ini. Ingat bahwa setiap permasalahan selalu bisa dilihat dari banyak sisi, tergantung bagaimana kita menempatkannya.
READ MORE - Miyabi Datang Semua Tegang

Antara Pelantikan DPR dan Gempa Sumatera Barat

Mari kita simak berita KOMPAS 29 September 2009 mengenai pelantikan anggota dewan yang terhormat.

Pelantikan anggota DPR dan DPD periode 2009-2014 pada 1 Oktober mendatang menjadi perhelatan tiga lembaga, yaitu Komisi Pemilihan Umum (KPU), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Ketiga lembaga itu menganggarkan biaya yang jumlahnya luar biasa besar.Total biaya untuk pelantikan yang hanya akan berlangsung beberapa jam itu mencapai Rp 46,049 miliar.

Berikut adalah rincian anggaran yang berasal darikeuangan negara tersebut, bersumber dari Indonesia Budget Centre (IBC):

1. Anggaran KPU: Rp 11 miliar

Angka ini jauh lebih besar dari pelantikan tahun 2004 sebesar Rp 7 miliar,naik sebesar 36 persen. Untuk pelantikan ini, setiap anggota DPR
menelan biaya sebesar Rp 15,89 juta.

- Biaya menginap di Hotel Sultan selama 4 hari @Rp4,2 juta x 692 orang =Rp 2,9 miliar
- Sewa kendaraan @Rp 63 juta x 4 hari =Rp 252 juta
- Biaya beli tas @Rp 167.000 x 692 =Rp 115 ,5 juta
- Uang saku @Rp 2 juta x 692 =Rp 1,38 miliar
- Biaya pakaian penjemputan (jas, jaket, batik, hem) = Rp 149 ,9 juta
- Biaya lain-lain Rp 6,22 miliar guna membiayai konsumsi petugas lapangan,biaya transportasi anggota DPR dan DPD.

2. Anggaran DPR/Setjen: Rp 28, 504 miliar

- Perjalanan pindah ke Jakarta @Rp50,35 juta x 560 orang =Rp 28,2 miliar(dana ini dianggap tidak perlu, duplikasi)
- Bantuan logistik untuk petugas Polri selama 3 hari =Rp 138 juta (duplikasi dengan anggaran Polri)
- Biaya protokoler pelantikan = Rp 112 ,5 juta
- Honor rohaniawan = Rp 56,2 juta

3. Anggaran DPD/Setjen = Rp 6, 545 miliar (anggaran ini naik sekitar 17 persen atau Rp 949 juta dari DIPA awal sebesar Rp 5,6 miliar)

- Biaya pembuatan PIN @Rp 9 juta x 132 = Rp 1,2 miliar (dinilai terlalu mahal)
- Biaya orientasi sebelum dilantik @Rp 22,7 juta x 132 orang = Rp 3 miliar (duplikasi dengan orientasi KPU)
- Biaya purnatugas (transport dan akomodasi) @Rp 10,4 juta x 100 anggota =Rp 1,04 miliar
- Biaya pengambilan sumpah/janji @Rp 9,8 juta x 132 anggota = Rp 1,3 miliar

Dengan total anggaran Rp 46, 049 miliar, maka setiap anggota DPR dan DPD rata-rata menghabiskan Rp 66,54 juta.

Sungguh sebuah ironi setelah pelantikan anggota dewan yang terhormat, bencana kembali menimpa bangsa Indonesia. Bahkan dalam pelantikan tersebut tidak menyinggung sedikitpun Gempa yang terjadi di Sumatera Barat ( detiknews,1/10/09). Baru setelah upacarapelantikan usai,mereka berlomba-lomba untuk menyumbangkan gaji mereka unutk korban gempa (Batam pos,2/10/09). Padahal tak tanggung-tanggung, gempa di Sumatera Barat kali ini lebih besar dari gempa di Yogya dan Tasikmalaya. Entah apa yang ada di benak para anggota dewan ketika melihat gempa besar yang terjadi di Sumatera Barat beberapa waktu yang lalu.

Apakah mereka punya cukup "sense of crisis" pasca gempa yang terjadi. Mungkin mereka malah tertawa dan beryanyi gembira di senayan pada saat saudara-saudara kita di Sumatera Barat berduka dan kehilangan keluarga dan harta. Coba bayangkan seandainya total anggaran pelantikan yang mencapai Rp 46,049 miliar tersebut digunakan untuk membantu saudara-saudara kita yang terkena musibah di Sumatera Barat. Betapa dana tersebut akan sangat membantu puluhan ribu saudara-saudara kita yang terkena musibah di Sumatera Barat. Sebagai rakyat jelata, saya hanya berharap bahwa anggota DPR yang terhormat bisa sadar dan melihat gempa ini sebagai sebuah pelajaran akan "sense of crisis" mereka dan sadar betapa besar uang rakyat yang dipakai hanya untuk melantik mereka.

READ MORE - Antara Pelantikan DPR dan Gempa Sumatera Barat